Tes sederhana ajalah.. Coba dengerin atau kalau orang radio dalam siaran pasang satu iklan atau kuis radio, cukup satu kali siar saja yang penting bunyikan dengan serius. isinya;
"Sepuluh orang pertama yang ( telpon / WA atau datang ke studio saya kasi uang Rp ... atau produk ekslusif.... diberikan langsung gak pake syarat !"
Logikanya kalau radio benar-benar sudah mati pasti gak ada yang respon khan ??. tapi faktanya sebaliknya, reaksi respon masih ramai bahkan mungkin sampai harus nolak-nolak.
Radio bukan sudah mati, tapi yang ngomong 'radio sudah mati' itu bisa jadi yang memang tidak pernah dengar lagi atau tidak pernah tahu bagaimana media radio sekarang berevolusi.
Kebiasaan atau persepsi orang yang bilang "radio sudah mati" iitu dianggap benar dan disampaikan ke orang orang lainnya lagi. Repotnya orang lain yang dengar itu percaya dan menganggap itu sebuah kebenaran yang valid. Yang lebih berat lagi, ada agenda setting dari industri media lain (selain radio) yang ingin menang cepat, didukung para praktisi media radio ikut baper, membenarkan sampai patah hati.
Jadi sebenarnya radio bukan sudah mati, tapi lebih banyak kreatifitas atau inovasinya yang stagnan di zona nyaman dan post power syndrome media, ditambah dengan pengaruh stigma negatif dari 'eksternal' yang kadung viral dan dianggap valid.
Mau diam ??.